Tiga Tahun Menikah, Tidak Tahu Cara Ngeseks (2)



Lho, bila memanglah belum juga sempat lakukan hubungan suami-istri mengapa mereka mesti cemas belum mempunyai anak? Nyatanya dua-duanya memiliki pengetahuan sex yang begitu minim. Bahkan juga mungkin saja dapat disebutkan 0. 

Tiga Tahun Menikah, Tidak Tahu Cara Ngeseks 

Mereka menduga cuma dengan tidur berduaan diatas satu ranjang yang sama, telah cukup buat istri hamil serta melahirkan anak. Sebelumnya menikah mereka juga tidak sempat bersentuhan, bergandengan tangan, terlebih berciuman. Karna mereka cemas semuanya aktivitas itu juga akan mengakibatkan si wanita hamil. 

Wah, mungkin saja mereka menduga mereka semacam hewan vertebrata seperti ikan yang langkah bereproduksinya dengan lakukan pembuahan diluar badan (oviparus). 

Yang buat aku bertanya-tanya didalam hati yaitu walau pengetahuan mengenai sex sepasang suami-istri ini hampir 0, apakah mungkin saja mereka juga tidak memiliki nafsu birahi? 

Mungkin ini efek negatif dari tidak sempat melihat film biru, dengan kata lain blue film, ya?

Tiga Tahun Menikah, Tidak Tahu Cara Ngeseks


Umur masak, pendidikan tinggi, bahkan juga tingat Master tidak menanggung kalau seorang itu sudah memiliki pengetahuan mengenai sex yang cukup. 

Tiga Tahun Menikah, Tidak Tahu Cara Ngeseks

Rekan aku, seseorang lelaki lulusan Sarjana (S1), usianya awal 30-an, sempat narasi pada aku kalau dia begitu kaget saat pacarnya yang lulusan S1 menampik saat akan di cium bibirnya. Yang membuatnya kaget itu bukanlah karna penolakan itu, namun karna argumennya. Ingin tahu argumennya? Argumennya yaitu si cewek takut hamil bila di cium! 

Beruntunglah hal itu berjalan tidak lama, sesudah pacarnya itu memperoleh “kursus singkat” dari rekan aku itu, yang lalu membuatnya bersedia di cium. Bahkan juga lalu “ritual” itu juga seringkali mereka kerjakan. Saat ini telah menikah serta mempunyai anak. 

Ini bukanlah narasi karangan aku. Namun benar-benar berlangsung. 

Aku lalu tidak terasa heran saat ketahui latar-belakang keluarga pacarnya itu yang begitu kolot serta tertutup masalah sex pada anak-anaknya. Di sinilah letak perlunya pendidikan sex mulai sejak awal. Bukanlah karna kita cemas berlangsung kehamilan sebelumnya saatnya, namun juga rupanya karna demikian sebaliknya. 

Tetapi, cerita rekan aku itu belumlah ada apa-apanya dengan satu momen yang berlangsung di Tiongkok, baru saja ini. 

Sepasang suami-istri asal Propinsi Hubei, Tiongkok yang sudah berumur 30-an, terasa cemas dengan pernikahan mereka yang sudah berjalan sepanjang tiga th., namun belum mempunyai anak. Sekian Tribun News. com yang mengutipnya dari Sin Chew Daily edisi Rabu, 6 Juli 2011. 

Mereka, sang suami yang seseorang Doktor, serta sang istri yang bergelar Master, lalu mengambil keputusan untuk konsultasi ke dokter pakar. 

Alangkah terkejutnya sang dokter saat ketahui kalau sepanjang tiga th. menikah itu pasangan suami-istri itu sekalipun belum juga sempat lakukan hubungan sex! 
baca selanjutnya 

Sumber : http://www.kompasiana.com/

Dua Tahun Menikah Istri Heran Suami Tidak Sempat Menyentuhnya, Ia Kaget Waktu Dapatkan Ini di Lemari (2)

Dua Tahun Menikah Istri Heran Suami Tidak Sempat Menyentuhnya, Ia Kaget Waktu Dapatkan Ini di Lemari 


USB itu juga yang sekalian membuatnya tahu kenapa suaminya tega melakukan perbuatan itu kepadanya.

Yu Ning temukan USB itu ada didalam almari yang senantiasa dikunci oleh suaminya.

Ia lalu coba membukanya di computer.


1/2 tidak yakin, ia temukan video homos3ksu**l di dalamnya.
Bahkan juga terdapat beberapa beberapa photo pria tengah t3l**nj**ng.

Pada akhirnya ia juga tahu kenapa suaminya begitu dingin kepadanya.
" Hpnya serta USB-nya sepanjang tidak sempat disentuh olehku, bahkan juga didekati saja tidak bisa, " lanjutnya.

Yu Ning pada akhirnya terasa begitu bimbang juga akan rumah tangga serta anaknya.
Lalu pada akhirnya terasa dianya jadi korban, ia terasa pernikahan ini begitu menyakitinya.

Ia sendiri mengharapkan orang-orang saat ini lebih memerhatikan hal seperti ini supaya tak ada sekali lagi wanita yang terlukai seperti dianya.

Dua Tahun Menikah Istri Heran Suami Tidak Sempat Menyentuhnya, Ia Kaget Waktu Dapatkan Ini di Lemari


Tiap-tiap pernikahan yang tersambung pada pasangan suami istri umumnya dilandasi rasa cinta. 

Tetapi, tidak sedikit juga yang mengambil keputusan menikah karna suatu hal hal. 

Baik itu karna perjodohan, atau karna si wanita hamil duluan. 
Seperti yang dihadapi oleh pasangan di bawah ini. 

Dua Tahun Menikah Istri Heran Suami Tidak Sempat Menyentuhnya, Ia Kaget Waktu Dapatkan Ini di Lemari 

Awalannya, mereka mengambil keputusan untuk menikah karna pengantin wanita terlanjur hamil duluan. 

Tetapi pastinya ketentuan menikah mereka ambillah karna dilandasi ada benih cinta. 

Sesudah menikah, tak ada yang aneh pada pasangan ini. 
Si istri, Yu Ning, bahkan juga menduga bila suaminya itu begitu menyayanginya. 
Hal tersebut tampak waktu suaminya itu memperlakukan istrinya. 

Ia seakan tidak mau berlangsung suatu hal pada bayi yang dikandungnya. 
Hingga ia tidak sempat buat istrinya itu alami hal yang tidak dikehendaki. 


Tetapi ia mulai terasa ada yang aneh, sebab suaminya itu tidak sempat sedikitpun menyentuhnya. 

Bahkan juga sesudah bayi itu lahir, serta umur pernikahan mereka telah 2 th.. 


Ditulis dari viral4real, kehidupan keduanya sesudah menikahpun nyatanya termasuk datar. 

Tiap-tiap malam, suaminya baru juga akan naik ke ranjang saat istrinya itu telah terlelap. 

Awalannya Yu Ning menduga bila itu dikerjakan suaminya karna menginginkan melindungi bayinya barusan. 

Namun semakin lama, ia semakin mengerti ada keanehan. 

" Mulai sejak menikah, ia tidak sempat mesra pada saya, " katanya. 

Pada sehari, dengan tidak berniat, Yu Ning temukan USB punya suaminya. 

Isi dari USB itu betul-betul membuatnya terperanjat. baca selanjutnya

Sumber : www.pusatkabarterupdate.com 

Astaghfirullah! Mendadak Ponselku Berdering! Selamat Jalan Istriku, Cerita Riil yang Mengoyak Hati (3)


Hari keempat. Sore itu saya di panggil ke ruangan Dokter Sugiono yang juga akan lakukan Kemoterapy. Disebutkan kalau kanker istriku fase 2A serta Insya Allah masih tetap dapat diobati. Istrikupun siap untuk melakukan penyembuhan dengan kemoterapy. Lalu kami minta ijin ke Dokter untuk diijinkan pulang sembari menyiapkan semua sesuatunya. 
Malam hari saat kami dirumah, kami minta pendapat dari pihak keluarga mengenai penyembuhan yang juga akan kami kerjakan. Dengan beragam pertimbangan serta argumen pihak keluarga merekomendasikan supaya kami tidak meniti jalan kemo serta radiasi. Kami dianjurkan untuk melakukan penyembuhan lewat cara alternatif serta penyembuhan herbal. 

Astaghfirullah! Mendadak Ponselku Berdering! Selamat Jalan Istriku, Cerita Riil yang Mengoyak Hati

Pada akhirnya mulai sejak waktu itu kami lakukan ikhtiar pegobatan lewat cara alternatif serta minum obat-obat herbal. Karna waktu itu istriku telah sulit untuk menelan jadi obat herbal yang didapatkan tidak berbentuk kapsul, tetapi berbentuk rebusan. Sehari-hari istriku mesti minum ramuan serta rebusan obat-obat herbal yang baunya begitu menyengat. Namun saya saksikan ia dengan tekun serta sabar teratur minum semuanya obat-obatan itu. 


Semangatnya untuk pulih demikian besar. Doa juga tidak ada henti kupanjatkan siang serta malam. Serta malam-malamku senantiasa ku butuhkan dengan tahajud serta hajat. Saya mulai rajin mencari semuanya info yang terkait dengan kanker nasofaring, dari mulai makanan, langkah penyembuhan, bahkan juga alamat klinik penyembuhan alternatif. Semuanya info saya mencari lewat internet, koran serta dari beberapa rekanan kerja. 
Tiga bulan penyembuhan, namun Allah kelihatannya belum juga berikan jalan kesembuhan dengan langkah tersebut, pada akhirnya obat herbal saya tinggalkan. Bahkan juga penyembuhan alternatif telah saya tinggalkan mulai sejak 1 bulan awal karna saya sangsi. Sebagian keluarga istri mulai putus harapan. Jadi ada yang berasumsi penyakit ini yaitu kiriman dari orang. Namun saya bantah semua, pernah ada pertentangan diantara kami. Saya optimis istriku kalau ini yaitu memanglah ujian dari Allah, 
“Bun.. semua atas kehendak Allah, bahkan juga jauh sebelumnya kita lahir telah tertulis takdir ini, umur segini bunda sakit, berobat ke sini-sini itu sudah ada semua.semua telah tersedia dalam catatan Allah bun. Yang perlu saat ini kita janganlah capek berihtiar serta bunda tetep mesti semangat untuk pulih. ” Ia mengangguk perlahan-lahan. 
Berat tubuh istriku mulai turun mencolok karna tidak ada konsumsi makanan, sebelumnya sakit beratnya 53 Kg saat ini tinggal 36 Kg. Keadaannya semakin kronis serta puncaknya saat saya saksikan mata kirinya telah tidak focus. Langkah ia lihat seperti orang juling. Menurut Dokter herbal yang mengatasi istriku berikut rangkaian perjalanan kanker itu yang lama kelamaan juga akan menyerang otak. Dokter menyarankan untuk selekasnya dibawa ke rumah sakit.
Pada akhirnya saya kembali membawanya ke Tempat tinggal Sakit. Kesempatan ini saya membawanya ke RS. Husni Thamrin. Istriku dikerjakan oleh tim yang terdiri Dokter THT, Dokter Internis serta Dokter spesialis pakar kemoterapy, Kebetulan Dokter Sugiono pakar kemoterapy yang dahulu menjaga istriku di RS. Proklamasi juga praktik disini. Serta saat ini Dokter sugiyono kembali mengatasi istriku. 
Sore itu Dokter menyebutku ke ruangnya. Dokter menerangkan fase kanker istriku telah jadi 4C, serta kankernya telah mulai menggerogoti tulang tengkorak penyangga otak. Lihat hasil CT Scan nya saya merinding, tampak terang tulang-tulang tengkorak itu keropos seperti daun termakan ulat. Saya menginginkan menjerit, “Ya Allah… demikian berat masalah ini Kau timpakan pada kami” 
“Ma’afkan bapak bun, bapak tidak dapat melindungi bunda…! ” 
Yang lebih mencengangkan saat dokter menyebutkan, “kita cuma dapat perlambat perkembangan kankernya bukanlah menyembuhkan. ” Seakan hitungan mundur kematian itu diawali. Saya limbung serta nyaris taksadarkan diri, sekuat tenaga saya berusaha untuk tetaplah tegar. Dengan dipapah adik saya keluar dari ruangan dokter. Selekasnya saya menuju Mushola kuambil air wudhu serta kujalankan sholat. Tak tahu sholat apa yang kujalankan ini. 
“Aku menginginkan ketenangan saya perlu pertolonganMu ya Robb. Kutumpahkan semua permintaan ini di hadapanMu yaa Allah. Dapat saja dokter memfonis dengan analisanya, namun Engkaulah yang maha kuasa atas semua sesuatunya. Engkau maha menggenggam semuanya takdir, sakit ini dariMu ya Allah serta padaMU juga saya mohon obat serta kesembuhannya. ” 
Semua ikhtiar serta do’a tidak ada capek kulakukan tuk kesembuhan istriku. Malam-malamku kulalui dengan sujud panjang selain bangsal rumah sakit. Kubenamkan wajahku di atas sajadah lebih dalam sekali lagi, mendadak saya terasa tidak mimiliki kemampuan apa pun, saya ada dalam kepasrahan serta penghambaan yang lemah. 
“Robb…Engkau maha ketahui, begitu semua ihtiar sudah kami kerjakan. Tidak ada menyerah kami melawan penyakit ini, saat ini saya serahkan semuanya padaMu, tak ada kemampuan yang mampu menaklukkan kemampuannMu yaa…Robb, Perlihatkan pertolonganMu, berikan kesembuhan pada istriku Ya.. Allah. ” 
Waktu itu istriku masih tetap dapat bicara walau dengan nada kurang terang. Karna tenggorokannya juga telah menyempit terhalang kanker, ia begitu kesusahan dalam bernafas. Untuk menghadapi supaya tidak terhalang saluran nafasnya, dokter merekomendasikan supaya dipasang ventilator dileher istriku. Akupun menyepakatinya walau saya tidak tega, namun ini kemungkinan paling kecil yang dapat di ambil. 
Istriku pasrah, dia minta saya temaninya ke ruangan operasi. Saya begitu tahu ia begitu takut dengan perlengkapan medis di ruangan operasi. Lalu saya mendampinginya dalam ruangan operasi untuk pemasangan Ventilator. Saya lihat dengan terang leher istriku disayat lalu dimasukkan alat bantu pernapasan itu. “Sebenarnya saya tidak tega melihatmu begini bunda, namun berikut yang paling baik untukmu sekarang ini. ” 
Usai pemasangan ventilator bicaranya telah tidak bertemura sekali lagi. Mulai sejak waktu itu praktis komunikasi kami cuma dengan isyarat atau kadang-kadang istriku menulisnya pada lembar-lembar catatan kecil yang berniat saya sediakan. Sudah pasti hal semacam ini merasa lelah baginya. Tetapi lagi ia tampak tegar tidak sempat saya mendengar ia mengeluh. Pada akhirnya dengan beragam pertimbangan akupun menyepakati untuk dikerjakan kemoterapy pada istriku. 
Kurang lebih jam 12 siang kemo step awal dikerjakan. Dengan perasaan tidak menentu saya lihat dokter mengolah obat dengan peralatan pengaman yang lengkap. Karna menurut dokter obat ini memanglah keras. 
“Ya Allah berikan kemampuan pada istriku…! ” Berikan kesembuhan lewat ihtiar obat ini ya Allah..! ” 
Selama sistem penyembuhan tidak hentinya kupanjatkan do’a serta dzikir dibantu dengan sebagian anggota keluarga. Menurut Dokter kemo ini dikerjakan dalam 3 hingga 5 step. Satu bagian kemo menelan saat 5 hari lalu jeda 3 minggu untuk dilanjutkan ke step selanjutnya. 
Hari ke-2 sesudah kemo lebih kurang jam 9 malam, istriku mulai terasa mual serta muntah. Hari ke-3 jam 12 malam mulai keluar mimisan dengan darah hitam mengental. Hari keempat jam 8 pagi saat aku memandikan serta bersihkan mulutnya yang terus-terusan keluarkan lendir, ada lendir bercampur darah hitam pekat serta mengental. 
Menurut dokter ini yaitu tanda kankernya telah mulai hancur. Malam harinya istriku tidur begitu pulas serta sedikit batuk berdahak seperti hari-hari terlebih dulu. Alhamdulillah kemo step awal usai. Dokter katakan bila keadaan istriku lebih baik jadi tiga hari sekali lagi bisa pulang. Tampak muka cerah istriku saat mendengar berita ini. “nanti jika pulang ingin kemana bun.. ke Sawangan apa ke Kebayoran (tempat tinggal ibunya)? ” 
“ke Sawangan saja tempat tinggal kita sendiri, ” jawabnya lewat secarik kertas.
Tetapi nyatanya dua hari lalu ia alami diare yang hebat ini yaitu resikonya dari obat kemo, hingga keadaannya kembali lemas. Gagasan pulangpun mesti dipending menanti keadaannya lebih baik. Namun semakin hari keadaan istriku semakin drop. Sampai mendekati kemo step ke-2 jadi albumin dalam darahnya alami penurunan. 
Sepanjang dirawat istriku memohon supaya aku sendiri yang memandikannya, bahkan juga saya juga yang bersihkan kotorannya. Semua aku lakukan dengan tekun karna saya terasa saat ini waktunya untuk membalas semuanya kebaikan yang sudah dikerjakannya kepadaku sampai kini. Saat istriku sehat dialah yang senantiasa merawatku, temaniku serta senantiasa mempersiapkan semuanya kebutuhanku. 
Sepanjang nyaris sebulan di Tempat tinggal Sakit kami terasa temukan keluarga baru. Keakraban tersambung pada kami dengan tim dokter, dengan beberapa suster bahkan dengan cleaning service yang setiap hari bersihkan kamar istriku. Aku terasa suka saat satu hari istriku bisa tertawa riang bercanda dengan beberapa suster walau tawanya tanpa ada nada. 
Kemo step ke 2 dikerjakan. Kelihatannya Allah betul-betul menguji kesabaranku. Saat akan dikerjakan kemo, tabung infus 1000cc yang dipakai untuk kombinasi obat kemo nyatanya tak ada. Rumah sakit kehabisan stok, serta ini yaitu satu kecorobohan yang harusnya tidak berlangsung. 
Karna pastinya pihak rumah sakit sudah mengetahui jadwal pelaksaan kemo ini. Dokterpun geram. Lalu Dokter merekomendasikan aku untuk selekasnya beli sendiri tabung infus ditempat beda. Maksud aku yaitu RSCM jadi Rumah sakit paling dekat, tetapi bila menuju RSCM memakai kendaraan juga akan menelan saat lama karna jalannya memutar. Sayapun lari ditengah sinar matahari jam 12 siang menuju RSCM. Tetapi di sanapun tidak ada, lalu aku lari sekali lagi menuju RS Sant Carolus, di sinipun nihil. 
Demikian halnya saat aku ke Apotik melawai tidak dapat memperolehnya. Pada akhirnya aku memperoleh tabung infus tersebut di Apotik Titimurni RS. Kramat. Pada akhirnya kemo step ke 2 juga bisa dikerjakan. 
Hari ini Dinda anak kami yang kecil ulang th. ke 4. Perhatian serta kecintaan istriku pada anaknya tidak sempat menyusut. Dibatas ketidak berdayaannya dia menuliskan suatu hal, “Ayah janganlah lupa beliin hadiah buat Dinda, bapak beliin jaket kelak bunda titip mukena, kasihan mukena dede telah buruk. Katakan ke dede ini mukena dari bunda. ” 
Atas keinginan istriku siang itu jadi tanda sukur kami memotong 2 buah kue ulang th. yang satu diantaranya untuk diberikan ke suster-suster yang jagalah. Lalu istriku minta dibantu turun dari tempat tidur, tuturnya menginginkan duduk bareng deket Dinda. Ia coba memberi senyum bahagia pada Dinda serta sembunyikan rasa sakitnya. Sesaat Dinda terlihat bahagia dipangku bundanya, mungkin saja ia menduga bundanya cuma sakit umum saja. Lagu “selamat ulang tahun” yang kami nyanyikan terdengar getir di telingaku. Merasa pilu saya memandang mereka. 
Umumnya bila istriku inginkan suatu hal ia juga akan membangunkan aku dengan mengetuk besi tempat tidurnya. Tetapi malam itu aku terasa begitu ngantuk serta capek, aku menulis pesan pada istriku, “bun.. kelak jika butuh apa-apa panggil suster saja ya! Bapak ngatuk serta cape, janganlah bangunin bapak ya! ” Dengan isyarat lemah ia mengiyakan permintaanku, ia menyeka tanganku lalu menuliskan suatu hal “ayah tidur saja gapapa kok, bunda juga ingin istirahat. ” 
Tak tahu kenapa pagi hari ini saya begitu menginginkan merawatnya. Saat ia kembali terserang diare berulang-kali yang begitu hebat saya sendiri yang bersihkan semua. Lalu memandikannya serta ganti bajunya. Pagi itu saya minta Lia anak sulung kami yang masih tetap duduk di kelas 5 SD untuk melindungi bundanya, sebelumnya lalu saya tinggal pergi kerja. 
Siang jam 11 Lia menelpon “Ayah, bunda pingsan nafasnya cepet banget. ” Saya kaget serta begitu cemas. Selang 15 menit Lia sms “bunda saat ini berada di ruangan ICU”. Astaghfirullah haladziim… apa yang berlangsung pada istriku. Selekasnya saya minta izin meninggalkan kantor. Di Tempat tinggal Sakit saya temui Lia menangis sesegukan tidak berhenti. “bunda yah… tolongin bunda yahh….! ” 
Kuhampiri istriku yang tergolek taksadarkan diri. Perawat menempatkan semuanya perlengkapan pada badan istriku, tak tahu alat apa sajakah ini. Kuusap perlahan-lahan keningnya, dingin sekali. Tangan serta kakinyapun begitu dingin. Sampai mendekati maghrib saya tidak beranjak dari sebelahnya. Tidak hentinya mulut ini memanjatkan doa. Sesaat diluar ruangan ICU telah banyak kerabat berdatangan. 
Desakan darahnya begitu rendah di bawah 70. Dokter memberi obat penguat desakan darah dengan dosis tinggi. Desakan darahnya pernah naik tetapi masih tetap dikisaran 75-80, begitu rendah. Berulang-kali dokter menyuntikkan obat perangsang tetapi akhirnya tetaplah sama tidak beralih. Dokter menyebutku, perasaanku gelisah tidak menentu, campur aduk pada kuatir, bimbang serta ketakutan yang sangat begitu. Sangkaanku benar Dokterpun menyerah.
Lihat keadaannya yang selalu alami penurunan ia merekomendasikan supaya semuanya alat bantu dilepaskan saja. “maksudnya dok..? ” saya menodong penjelasan. “secara medis keadaan ibu telah tidak bisa ditolong sekali lagi, tambah baik kita do’akan saja. ” Saya betul-betul lemas mendengarnya semua tubuhku gemetar merinding “benarkah tidak ada sekali lagi keinginan. ” Mendadak saya rasakan ketakutan yang mengagumkan. Saya tidak ingin menyerah, saya memohon supaya semuanya alat bantu itu tetaplah terpasang pada badan istriku, sembari menanti ketentuan tim dokter besok pagi. 
“Aku tidak ingin kehilanganmu bunda. ” Ku pegang kuat jemarinya, “buka matamu bunda sebentar saja, bapak menginginkan memandang mata bening bunda untuk paling akhir kalinya, ” kubisikan lembut ditelinganya. 
Jam 22, saya disodori surat pernyataan, tidak pernah saya baca, kata suster ini yaitu Surat kesepakatan untuk melepas semuanya alat bantu dari badan istriku. “Tak mampu saya lakukan ini bun, saya menginginkan tetaplah memandang wajahmu, saya menginginkan tetaplah mendampingimu walau dalam ketidakberdayaanmu. ” 
Pada akhirnya adikku yang menandatanganinya. Saya tidak menginginkan senantiasa dihinggapi rasa bersalah bila di tandatangani surat itu. Lalu semuanya alat bantu dilepaskan dari badan istriku, tinggal tersisa alat pendeteksi detak jantung. 
“Bun….. berikut yang paling baik yang didapatkan Allah buat kita, maafkan bapak bun bapak tidak dapat melindungi bunda. Bapak ikhlas bunda pergi, bapak terima semuanya dengan ihklas bun.. Janganlah cemas bun, bapak juga akan melindungi serta menjaga anak-anak kita, ” kubisikan lirih ditelinga istriku. 
Kutemui Lia yang menanti di luar ruangan ICU, kubelai rambutnya penuh sayang. Ia menangis keras sejadi-jadinya, mungkin saja ia memahami apa yang kumaksudkan. “Bundaa….. Lia gak ingin kehilangan bunda, janganlah tinggalin lia bundaa..!! ” Tangisnya memekik, merebut perhatian kebanyakan orang diruang tunggulah ICU ini. Semuanya mata memandang kami namun mereka diam seakan mahfum dengan kondisi kami. 
Dalam tiap-tiap rangkaian doaku tidak sempat saya mengatakan kalimat menyerah “kalo memanglah akan Engkau ambillah jadi mudahkan, ” tidak sempat saya mengatakan kalimat itu. Saya senantiasa minta kesembuhan, kesembuhan karna saya memanglah inginkan istriku betul-betul pulih. 
Kelihatannya saat ini saya mesti menyerah serta pasrah “Ya.. Robb bila memanglah Engkau memastikan jalan beda saya ikhlas ya Allah…., mudahkan jalan istriku untuk menghadapmu dengan khusnul khootimah. ” 
Menurut suster dalam keadaan begini pasien masih tetap dapat mendengar. Kubimbing istriku mengatakan kalimat “LAAILAHA ILLALLAH MUHAMMADUR ROSULULLAH.. ” perlahan-lahan saya menuntunnya. Rasa-rasanya saya tahu benar tiap-tiap helaan nafasnya, raga kami seperti menyatu. Kuulang sampai berulang-kali dengan helaan nafas yang terirama perlahan. Dua bulir bening tersembul dari pojok matanya. Saya rasakan ia mampu ikuti kalimat ini, terimakasih ya Allah..! 
Saya terbangun saat mendadak seseorang suster menyebut “Keluarga ibu Siti Nurhayati..! ” Saya bergegas masuk ke ruangan ICU, jam menunjuk Jam 05. 05, masih tetap pagi dengan udara dingin yang menyelinap tulang. “Ma’af pak, ibu telah tak ada. ” tutur suster barusan singkat. Walau saya tau tujuannya namun saya masih tetap tidak yakin. Kutengok monitor monitor yang tersambung ketubuh istriku. Tidak ada sekali lagi yang bergerak di sana. 
Seperti tersambar petir, kudekap badan lemas istriku. Bibirnya menoreh segaris senyum. “INNA LILLAAHI WAINNA ILAIHI ROOJIUUN. ” Saya lunglai terduduk disebelahnya namun tidak ada sekali lagi air mata yang keluar. “Bun, Bapak ikhlas melepas bunda, Allah sudah memilihkan jalan paling baik buat kita. ” 
Selamat Jalan Istriku…… jemput saya serta anak-anak kelak di pintu SurgaNya. 
Mudah-mudahan berguna untuk yang membacanya …. 
Salam Tercinta.. 
Dari Teman dekat Untuk Teman dekat … 
… Mudah-mudahan tulisan ini bisa buka pintu hati kita yang sudah lama terkunci

Astaghfirullah! Mendadak Ponselku Berdering! Selamat Jalan Istriku, Cerita Riil yang Mengoyak Hati (2)


Dek.. seakan detak jantungku berhenti “KANKER…Dok? ” 
Mendadak mataku jadi gelap, satu beban berat terasanya menindih tubuhku. Saya diam serta tidak dapat berkata apa-apa, lama saya terdiam. 
“Kanker..? ” tanyaku, 

Astaghfirullah! Mendadak Ponselku Berdering! Selamat Jalan Istriku, Cerita Riil yang Mengoyak Hati

namun kalimat itu tidak dapat terucap cuma bersarang di kepalaku. Satu penyakit yang sampai kini cuma saya kenal lewat info serta berita-berita, saat ini penyakit itupun hampiri orang paling dekatku orang yang paling saya cintai. Penyakit yang menakutkan itu menyerang istriku. 
Kutatap muka cantik istriku yang dibalut jilbab favoritnya, tenang.. teduh… tidak ada ekspresi apa-apa saya semakin bingung. 
“duhh…bunda apa yang ada pada fikiranmu bunda…” 
“Sekarang ayah ke RSCM ke sisi Radiologi kita mesti melakukan tindakan cepat, ” 
mendadak saya tersadar. Selekasnya kuambil surat pengantar dokter serta menuju RSCM. 
Benar-benar tidak sempat terpikirkan sedikitpun terlebih dulu, saat ini kami ada dalam jejeran beberapa orang pasien kanker di ruangan tunggulah spesialis Radiologi ini. Aroma kekhawatiran bahkan juga keputus asaan tergambar di muka mereka. Sesungguhnya ini aku rasakan, namun aku mesti sembunyikan raut ini dihadapan istriku. Saya mesti tetaplah menyuguhkan daya penyemangat kepadanya. 
Di hadapan dokter Radiologi saya ajukan pertanyaan, “sebenarnya istriku terkena kanker apa dok? ” 
“kanker nasofaring. ” jawab dokter singkat. 

Ya Allah…. kanker apa sekali lagi ini? Istilahnya saja aneh bagiku. Mengapa mesti istriku yang merasakannya? 
“Tapi Insya Allah masih tetap dapat sembuh dengan penyembuhan cahaya radiasi serta kemoterapy, ” dokter coba menangkap kebimbangan diwajahku. 
“Nanti ibu mesti melakukan penyembuhan radiasi sepanjang 25 kali. ” 

Terbayang beratnya derita serta kelelahan yang perlu dihadapi istriku. Belum juga dengan gabungan penyembuhan kemoterapy yang melemahkan fisik. Keluar dari ruangan radiologi seakan semua jadi gelap, rasa-rasanya saya tidak kuat menahan semua beban ini. Selekasnya saya sms family serta rekan-rekan dekatku, saya kabarkan kondisi istriku serta kumintakan do’a dari mereka. Tidak merasa bulir-bulir bening air mata bermunculan disudut mataku. 
“Ayah mengapa? nangis yach..? ” dengan polos pertanyaan itu keluar dari bibir istriku.  
“iya, bapak sayaaang…. sama bunda, ” suaraku gemetar. 
Ku usap lembut kepala istriku. Ku tepis perlahan-lahan tangannya yang coba menyeka air mataku, ku gengggam kuat jari-jari lemahnya. Hatiku berbisik “kenapa tidak ada rasa sedih diwajahmu bunda? apakah bunda gak tau penyakit ini demikian beresiko? Atau Allah sudah memberitahu ini semuanya padamu? ” 
“Bunda umum ajah koq.. ” Jawabanya jadi semakin membuatku tidak dapat bernafas, air mataku pada akhirnya jatuh juga. 
Kususuri lorong-lorong RSCM dengan langkah lemas tidak bertenaga seakan saya melayang-layang, tulang-tulang merasa tidak dapat menyokong tubuhku yang kecil ini. 
Mulai hari itu istriku mesti dirawat inap di RS. Proklamasi. Semuanya persiapanpun dikerjakan dari mulai USG, Bond Scan dan lain-lain. Akhirnya rahim masih tetap bersih serta tulangpun normal berarti kankernya belum juga mejalar ke sisi beda, Alhamdulillah…sempat kuucap kata sukur itu. Baca Selanjutnya

Astaghfirullah! Mendadak Ponselku Berdering! Selamat Jalan Istriku, Cerita Riil yang Mengoyak Hati


Mendadak HP ku berdering, sesudah menjawab salam nada diseberang telepon terlihat cemas “Ayah.. bunda mimisan nich. ” Hmm.. kumaklumi kepanikan istriku waktu itu karna belum juga sempat dia alami mimisan begini. 

Astaghfirullah! Mendadak Ponselku Berdering
Selamat Jalan Istriku, Cerita Riil yang Mengoyak Hati 

Memanglah cuaca di bulan Agustus siang itu demikian teriknya. Saya fikir ini karena cuaca yang terik itu. Lalu saya anjurkan dia untuk selekasnya ke dokter. Sekian hari lalu istriku sakit pilek. Seperti umumnya bila sakit ia cuma minum obat warung serta tidak sering sekali ingin kontrol ke dokter. “ oalah bunda…. ke dokter ajah kok takut, ” ledekku, ku sorong pipi kenyalnya dengan ujung jari, ia merajuk bibirnya maju 2 centi, lucu memandangnya sesuai sama itu. 
Dua minggu berselang namun pileknya belum hilang. Jadi tuturnya ada yang merasa menyumbat di saluran hidungnya, rasa-rasanya tidak nyaman serta sulit bernafas. “Bun… besok kita ke Tempat tinggal Sakit ya! agar bapak ijin masuk siang, ” rayuku supaya ia ingin ke Rumah sakit. 

Esok harinya aku ajak ia ke RS. Bhakti Yudha Depok. Waktu itu dokter THT katakan istriku alergi pada debu dan bulu-bulu binatang. Namun hingga obatnya habis pileknya belum juga ada juga sinyal tanda kesembuhan. 
Anehnya yang seringkali keluar lendir cuma hidung samping kiri saja. Bahkan juga istriku mulai sulit bernafas lewat hidung, ia cuma dapat bernafas lewat mulut. Serta saat aku membawanya check untuk ke-2 kalinya dokter merekomendasikan untuk rontgen. Tetapi dari hasil rontgen tidak tampak ada kelainan apa pun di hidung istriku.
Saya mengajaknya kontrol ke RS Proklamasi Jakarta, karna menurut info disini perlengkapanya lebih lengkap. Nyatanya benar, dengan alat penyedot dokter keluarkan lendir dari dalam hidung istriku. Suka rasa-rasanya lihat ia bisa bernafas dengan lega. “Alhamdulillah….. ” 
Sekian hari lalu sumbatan itu kembali keluar. “Duh.. bunda! ” Kontrol ke-2 ke RS. Proklamasi masih tetap saja dokter belum juga dapat mengemukakan penyakit apa yang dihadapi istriku ini. 

Dokter memasukkan kapas basah ke hidung istriku (nyatanya itu yaitu bius lokal), sebagian waktu lalu satu gunting kecil dimasukkan dalam hidung serta.. “krek” potongan daging kecil di ambil. Terakhir baru saya tau aksi berikut yang diberi nama biopsi. Tidak ada yang di sampaikan pada kami. Dokter merekomendasikan dikerjakan CT Scan. Lalu kami menuju ke RSCM untuk CT Scan. 

Esok harinya hasil CT Scan saya bawa kembali pada Dokter RS Proklamasi. Sesudah lihat hasil Scan, Dokterpun mengemukakan akhirnya dan hasil biopsi dari laboratorium. 
“ini ibu positif, ” kata dokter sembari tunjukkan photo CT Scan. Terlihat ada satu massa di antara belakang hidung serta tenggorokan istriku. Cukup besar seukuran kepalan tangan. Saya masih tetap belum juga tahu maksud kalimat nya serta memanglah sekalipun tidak ada fikiran yang aneh saya cobalah ajukan pertanyaan, “maksudnya apa dok? ” 
“ibu positif kanker! ” Baca Selanjutnya 

http://sumsel.tribunnews.com