5 Alasan Menikah Menurut Islam (Kalau Bukan Karena Ini, Pernikahanmu Bisa Nggak Berkah)

shares


3. Mewujudkan tujuan penciptaan laki-laki dan perempuan

Allah Swt. telah menciptakan manusia dalam dua jenis kelamin, laki-laki dan perempuan, bukanlah tanpa tujuan. Kepada dua jenis kelamin inilah Allah menyandarkan keberlangsungan jenis manusia. Keberlangsungan jenis manusia yang dikehendaki oleh Alah bukan hanya keberlangsungan ras manusia. Akan tetapi keberlangsungan jenis/ras manusia dengan segala atribut kemanusiaannya, termasuk seluruh kehormatannya sebagai manusia. Tujuan yang demikian hanya bisa dicapai dengan adanya ikatan perkawinan antara kedua jenis kelamin dalam suatu ikatan yang sah. Keberlangsungan spesies manusia ini, yakni bahwa spesies manusia masih tetap ada, bisa saja tercapai melalui hubungan antara kedua jenis kelamin tanpa ada ikatan perkawinan yang sah. Karena semata terjadinya hubungan seksual antara kedua jenis kelamin bisa melahirkan keturunan. Namun kelanjutan spesies manusia yang seperti itu tidak disertai dengan martabat kemanusiaan yaitu aspek-aspek kehidupan manusia yang membedakannya dengan cara hidup binatang. Oleh karenanya hubungan seksual tanpa atau di luar ikatan perkawinan yang sah tidak bisa memenuhi tujuan yang dicanangkan oleh Allah.

Allah menghendaki agar segala bentuk hubungan kelelakian dan keperempuanan (maskulinitas-feminitas) tidak bergeser dari tujuan mulia penciptaan kedua jenis kelamin tersebut. Tujuan mulia tersebut adalah untuk menjaga keberlanjutan dan keberlangsungan jenis manusia tanpa mengurangi atribut kehormatan manusia dan tanpa meninggalkan jati diri kemanusiaannya. Tujuan mulia itu hanya akan bisa terwujud dengan pernikahan yang sesuai dengan tuntunan yang diberikan oleh Allah Swt. Kemudian dari perkawinan itu lahir anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan, yang nantinya akan meneruskan keberlangsungan dan keberlanjutan sejarah manusia. Allah Swt. berfirman :

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ

“Wahai manusia bertakwalah kepada Rabbmu yang telah menciptakan kalian dari diri yang satu. Dan Allah menciptakan dari padanya isterinya dan dari keduanya memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak, dan bertakwalah kepada Allah yang dengan namaNya kalian saling meminta dan jagalah silaturrahmi”. (QS an-Nisâ’ [4] : 1)

Tujuan mulia ini harus disadari oleh mereka yang hendak melakukan proses menjalin ikatan. Tujuan mulia ini harus meresap ke dalam sanubari setiap muslim dan muslimah. Tujuan ini bukanlah sembarang tujuan, akan tetapi mempunyai nilai khusus karena yang mencanangkan tujuan itu adalah Allah yang Mahabijaksana sendiri. Kita sebenarnya mendapat kehormatan yang luar biasa karena Allah menjadikan kita sebagai pelaksana tujuan itu. Oleh karenanya, tujuan mulia ini harus selalu ditanamkan dalam sanubari. Bukan berarti bahwa dengan mengutamakan tujuan mulia ini, lantas mengabaikan kenikmatan duniawi. Bukan begitu! Justru dengan tetap berusaha mewujudkan tujuan itu, dengan sendirinya seluruh kenikmatan duniawi akan bisa terengkuh. Bahkan kenikmatan duniawi dan jasmani itu akan semakin berarti. Karena bukan semata kenikmatan jasmani, namun disertai oleh kenikmatan rohani dan maknawi yang didorong oleh sebuah ‘azzam untuk mewujudkan tujuan mulia yang dicanangkan oleh Allah. Kalau hanya kenikmatan duniawi dan jasmani semata yang menjadi landasan, maka perlu kita renungkan, toh kambing yang ada di kandang tak jauh dari rumah kita, interaksi mereka semata untuk kenikmatan jasmani sekalipun begitu kambing-kambing itu toh mampu menyediakan bahan makan hewani bagi kita dari keturunannya, memberikan manfaat besar bagi manusia. Mari kita renungkan kalau hanya kenikmatan jasmani semata yang mendorong seseorang untuk menjalin hubungan lawan jenis maka bandingkan dengan kambing di kandang tak jauh dari rumah kita itu.

Artikel Lainnya:  Apakah Tuhan itu Ada? Begini Bukti Adanya Tuhan
Ditambah lagi, seharusnya kita merasakan kebanggaan karena dengan melakukan interaksi maskulinitas-feminitas dalam rangka mewujudkan tujuan di atas, kita telah menjadi aktor bagi berlangsungnya tujuan yang dicanangkan oleh Allah. Yang dengan itu jenis manusia dengan seluruh martabatnya tetap terjaga keberlangsungannya. Harus kita sadari, bahwa dengan itu sebenarnya kita telah turut andil melaksanakan kerja besar yang menyelamatkan ras manusia di saat banyak manusia justru berbuat sebaliknya.


Hubungan maskulinitas-feminitas harus dilaksanakan melalui sebuah perkawinan yang sah. Sehingga menghasilkan keturunan memang disyariatkan. Dalam sebuah hadis dinyatakan bahwa Rasulullah kelak pada hari akhirat akan membanggakan banyaknya jumlah umat Beliau kepada nabi-nabi yang lain. Anas ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda :

تَزَوَّجُوْا الْوَدُوْدَ وَ الْوَلُوْدَ فَاِنِّيْ مُكَاثِرٌ بِكُمْ اْلأَنْبِيَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Kawinilah oleh kalian wanita penyayang dan subur keturunannya, karena sesungguhnya aku akan membanggakan banyaknya jumlah kalian dihadapan para nabi yang lain pada Hari Kiamat nanti.”

Hadis ini menyiratkan adanya dorongan untuk memperbanyak keturunan. Hal ini sejalan dengan tujuan penciptaan jenis kelamin laki-laki dan perempuan yang telah dinyatakan di atas. Dengan demikian, meminang sebagai langkah awal menuju perkawinan sejak dari awal harus dilakukan dalam rangka mewujudkan tujuan tersebut.
baca Selanjutnya

Related Posts