Astaghfirullah! Mendadak Ponselku Berdering! Selamat Jalan Istriku, Cerita Riil yang Mengoyak Hati (2)


Dek.. seakan detak jantungku berhenti “KANKER…Dok? ” 
Mendadak mataku jadi gelap, satu beban berat terasanya menindih tubuhku. Saya diam serta tidak dapat berkata apa-apa, lama saya terdiam. 
“Kanker..? ” tanyaku, 

Astaghfirullah! Mendadak Ponselku Berdering! Selamat Jalan Istriku, Cerita Riil yang Mengoyak Hati

namun kalimat itu tidak dapat terucap cuma bersarang di kepalaku. Satu penyakit yang sampai kini cuma saya kenal lewat info serta berita-berita, saat ini penyakit itupun hampiri orang paling dekatku orang yang paling saya cintai. Penyakit yang menakutkan itu menyerang istriku. 
Kutatap muka cantik istriku yang dibalut jilbab favoritnya, tenang.. teduh… tidak ada ekspresi apa-apa saya semakin bingung. 
“duhh…bunda apa yang ada pada fikiranmu bunda…” 
“Sekarang ayah ke RSCM ke sisi Radiologi kita mesti melakukan tindakan cepat, ” 
mendadak saya tersadar. Selekasnya kuambil surat pengantar dokter serta menuju RSCM. 
Benar-benar tidak sempat terpikirkan sedikitpun terlebih dulu, saat ini kami ada dalam jejeran beberapa orang pasien kanker di ruangan tunggulah spesialis Radiologi ini. Aroma kekhawatiran bahkan juga keputus asaan tergambar di muka mereka. Sesungguhnya ini aku rasakan, namun aku mesti sembunyikan raut ini dihadapan istriku. Saya mesti tetaplah menyuguhkan daya penyemangat kepadanya. 
Di hadapan dokter Radiologi saya ajukan pertanyaan, “sebenarnya istriku terkena kanker apa dok? ” 
“kanker nasofaring. ” jawab dokter singkat. 

Ya Allah…. kanker apa sekali lagi ini? Istilahnya saja aneh bagiku. Mengapa mesti istriku yang merasakannya? 
“Tapi Insya Allah masih tetap dapat sembuh dengan penyembuhan cahaya radiasi serta kemoterapy, ” dokter coba menangkap kebimbangan diwajahku. 
“Nanti ibu mesti melakukan penyembuhan radiasi sepanjang 25 kali. ” 

Terbayang beratnya derita serta kelelahan yang perlu dihadapi istriku. Belum juga dengan gabungan penyembuhan kemoterapy yang melemahkan fisik. Keluar dari ruangan radiologi seakan semua jadi gelap, rasa-rasanya saya tidak kuat menahan semua beban ini. Selekasnya saya sms family serta rekan-rekan dekatku, saya kabarkan kondisi istriku serta kumintakan do’a dari mereka. Tidak merasa bulir-bulir bening air mata bermunculan disudut mataku. 
“Ayah mengapa? nangis yach..? ” dengan polos pertanyaan itu keluar dari bibir istriku.  
“iya, bapak sayaaang…. sama bunda, ” suaraku gemetar. 
Ku usap lembut kepala istriku. Ku tepis perlahan-lahan tangannya yang coba menyeka air mataku, ku gengggam kuat jari-jari lemahnya. Hatiku berbisik “kenapa tidak ada rasa sedih diwajahmu bunda? apakah bunda gak tau penyakit ini demikian beresiko? Atau Allah sudah memberitahu ini semuanya padamu? ” 
“Bunda umum ajah koq.. ” Jawabanya jadi semakin membuatku tidak dapat bernafas, air mataku pada akhirnya jatuh juga. 
Kususuri lorong-lorong RSCM dengan langkah lemas tidak bertenaga seakan saya melayang-layang, tulang-tulang merasa tidak dapat menyokong tubuhku yang kecil ini. 
Mulai hari itu istriku mesti dirawat inap di RS. Proklamasi. Semuanya persiapanpun dikerjakan dari mulai USG, Bond Scan dan lain-lain. Akhirnya rahim masih tetap bersih serta tulangpun normal berarti kankernya belum juga mejalar ke sisi beda, Alhamdulillah…sempat kuucap kata sukur itu. Baca Selanjutnya
close
close